Teknologi Kloning Manusia Untuk Ilmu Pengetahuan

Sejarah Teknologi Kloning Manusia

Berbicara mengenai teknologi kloning pada manusia, erat hubungannya dengan penemuan blueprint pada sistem yang menjadi indikator terciptanya manusia. Pada abad 20-an ilmuwan Swiss yang bernama Friedrich Miescher telah menemukan nuclein di dalam inti sel. Penemuan ini lah yang mendorong ilmuwan-ilmuwan Barat menemukan sistem yang membentuk sifat pada genetik di dalam tubuh manusia yang kita sebut dengan Deoxyribonucleic Acid atau yang lebih sering kita kenal dengan sebutan DNA.

DNA merupakan bahan penyusun utama dari setiap organisme hidup yang menyimpan kode genetik, cara kerja DNA, serta fungsi protein yang sangat penting pada organisme hidup yang membentuk DNA itu sendiri. DNA tidak hanya ditemukan pada kromosom manusia saja namun dapat ditemukan di hewan dan tumbuhan.

Sudah Tahu Apa Itu Kloning?

Kloning itu sendiri merupakan proses perkembangbiakan atau penggandaan gen yang terjadi tanpa melalui sebuah perkawinan untuk menciptakan individu yang sama atau identik. Oleh karena proses kloning terbentuk melalui prosedur yang sangat berbeda daripada biasanya maka dari itu masih ditemukan pro dan kontra mengenai teknologi kloning yang terjadi pada manusia. Walaupun sempat ilmuwan Cina mengklaim pernah melakukan publikasi karya ilmiah terhadap hasil kloning beliau terhadap terciptanya manusia yang diberinama Eve yang disinyalir sebagai manusia pertama hasil kloningan.

Menariknya di zaman modern seperti saat ini sudah ada teknologi yang menggunakan sistem yang hampir sama dengan kloning yaitu bio finger. Teknologi ini banyak digunakan untuk sistem absensi pada instansi agar minim penyalahgunaan. Nyatanya sistem ini pun sangat efektif daripada sistem manual. Setiap instansi yang sudah menggunakan sistem bio finger pun dapat merasakan dampak positif dari sistem ini, yaitu praktis, menghindari terjadinya titip absen, menghemat waktu, mencatat daftar hadir dan pergi secara akurat, langsung tercatat ke dalam database.

Tujuan Utama Kloning

Tujuan utama dari teknologi kloning ini adalah untuk menjawab segala keresahan yang ada dibenak para ilmuwan dalam meminimalisasi unsur pembentuk penyakit turunan yang ada pada DNA manusia. Agar penyebaran penyakit mematikan seperti HIV dan virus-virus yang membentuk sel kanker nantinya bisa diminimalisasi atau bahkan hilang sama sekali pada tubuh manusia.

Namun sayangnya disamping penemuan teknologi yang sangat menggemparkan dunia mengenai kloning manusia tersebut. Masih terdapat kelemahan yang terjadi pada proses kloning yang dilakukan pada seekor domba yang bernama Dolly. Dimana hasil kloning ini menunjukkan bahwa usia hidup yang ada pada domba hasil kloningan jauh lebih singkat daripada organisme hidup yang terbentuk secara alami yang melalui proses kawin.

Hal tersebut ternyata memiliki keterikatan dengan fenomena terciptanya bayi kembar identik. Bayi kembar identik disinyalir merupakan proses kloning yang terjadi secara alami sedangkan teknologi bayi tabung merupakan proses yang mengindikasikan terjadinya proses kloning yang sengaja dibuat untuk terjadinya proses pembuahan pada sel telur dan sperma. Berikut ini penjabaran yang lebih rinci mengenai pembentukan bayi kembar identik, yaitu: Pertama, pada masa pembuahan yang sedang berlangsung, sel telur yang matang dibuahi oleh sperma membentuk zigot akan membelah. Kedua, Jika pembelahan zigot terjadi di awal pembuahan, yaitu 1-3 hari setelah pembuahan maka embrio (calon bayi) biasanya berada di satu plasenta yang memiliki kantong ketuban yang berbeda. Ketiga, jika pembelahan yang tejadi 14 hari maka embrio kemungkinan akan menempel satu sama lain (atau yang disebut kembar siam).

Teknologi Kloning dan Identitas

Mengapa teknologi kloning erat kaitannya dengan identitas? Selama ini banyak orang yang bertanya-tanya, apakah hasil dari kloning akan mempunyai data yang sama persis dengan induk? Misalnya ketika ada sebuah mesin absen wajah maupun bio finger. Apakah datanya akan sama atau berbeda? Jawabannya adalah sama.

Cara kerja bio finger ini adalah dapat mengidentifikasi susunan kontur sidik jari hingga detail sama seperti aslinya. Biasanya yang saat ini sudah diberlakukan, yaitu sistem absensi di sebuah instansi. Sistem bio finger ini dipakai agar data kehadiran mudah terdeteksi dan minim manipulasi. Jika finger print sudah diberlakukan tidak ada satu orang pun yang dapat menggantikan kecuali pada satu kasus ada orang lain yang berbeda DNA memiliki sidik jari yang sama itupun kemungkinannya sangat kecil. Mengapa? Karena menurut sebuah penelitian sidik jari setiap manusia itu berbeda walaupun ada kemungkinan identik.

Ada sebuah ilustrasi menarik lainnya yang dapat menggambarkan proses yang dilalui pada proses bayi tabung dan kloning. Pada paragraf sebelumnya penulis sudah membahas mengenai bayi tabung yang ada korelasi nya terhadap pembentukan bayi kembar identik. Dimana bayi kembar identik ini memiliki kesamaan konsep dengan proses kloning yang pointnya adalah terciptanya organisme yang memiliki sifat bawaan yang sama seperti induknya.

Kloning yang terjadi yaitu dimana sel somatik diambil dari seorang donor dan digunakan untuk membuat embrio. Individu baru ini akan lahir dari orang tua tunggal dan hanya membawa DNA orang tersebut. Contohnya: berita yang hangat mengenai Dolly mamalia pertama yang berhasil dikloning dari sel induknya. Kloning memang belum berhasil menciptakan satu manusia utuh masih terbatas pada stem cell yaitu menciptakan organ untuk keperluan transplantasi.

Namun pada realitanya proses kloning yang terjadi pada bayi tabung itu sendiri memiliki risiko kegagalan yang sangat besar. Faktor-faktor kegagalan yang sering dialami oleh pembuatan bayi tabung yaitu dimana buruknya kualitas sperma. Bahan-bahan genetik yang disimpan di dalam kepala sperma mengalami fungsi abnormal bahkan saat sedang dilakukan analisa mengenai kondisi air mani menunjukkan hasil yang baik sekalipun dilihat dari kondisi sperma dan morfologi tergolong normal. Kerusakan DNA sperma dapat disebabkan oleh radiasi, bahan-bahan kimia dan juga yang sangat berpengaruh yaitu penggunaan tembakau yang berlebihan. Pembuahan telur dengan sperma yang abnormal dapat menghasilkan embrio yang abnormal.

Faktor risiko yang kedua yaitu kegagalan implantasi. Sebuah sel telur yang sehat diambil kemudian sperma dan sel telur dipertemukan hingga menciptakan embrio, lalu embrio ditransfer ke dalam rahim setelah proses tersebut terpenuhi barulah proses implantasi dimulai. Pada proses inilah sering ditemui kegagalan oleh karena kondisi aliran darah yang buruk, lapisan dinding rahim yang tipis yang mebuat embrio tidak dapat tertanam ketika proses transfer ke dalam rahim dilakukan.

Itulah beberapa uraian mengenai teknologi kloning pada manusia baik yang terjadi secara alami maupun buatan seperti proses pembuatan bayi tabung yang memiliki korelasi terhadap perkembangan teknologi kloning yang tercipta untuk memberikan pengaruh yang besar untuk meberikan solusi yang baik terhadap adanya gen-gen bawaan yang terdapat di dalam DNA manusia yang masih memiliki risiko mengenai penyebaran penyakit turunan pada tubuh manusia. Terlepas dari pro dan kontra yang ada harapannya sebuah teknologi kloning ini dapat menjawab kebutuhan manusia di masa yang akan datang.