Teknologi Biometrik Pemindai Wajah

Dalam teknologi biometrik, arti wajah oriental memiliki makna terjemahan yang agak berbeda. Namun sebelum mengulas hal ini harus diterangkan lebih dulu pengertian dari teknologi biometrik. Tujuannya yaitu agar penjelasannya lebih mudah dipahami dan dimengerti. Sehingga tidak terjadi kebingungan dalam menelaah maksud dari istilah tersebut.

Teknologi Biometrik

Tidak bisa disangkal lagi, kehadiran teknologi biometrik telah memunculkan berbagai kemudahan pada kehidupan manusia. Satu hal yang paling utama, teknologi tersebut bisa dijadikan sarana dan media untuk mencegah tindak kejahatan atau kriminal. Teknologi ini sendiri telah diaplikasikan di berbagai perangkat. Misalnya mesin absensi pegawai, ponsel pintar atau smartphone, e-paspor atau e-KTP, kamera CCTV dan masih banyak lagi.

Metode penggunaan dan pemanfaatannya juga bermacam-macam seperti sidik jari, melalui getar suara, retina mata, bulu rambut hingga pemindai wajah atau muka. Kemudian terkait dengan alat dan teknologi yang memakai media pemindai wajah, contohnya antara lain adalah mesin absensi untuk karyawan dan smartphone.

Bahkan saat ini meskipun jumlah penggunaannya masih terbatas, sudah ada beberapa perusahaan di Indonesia yang memanfaatkan alat atau mesin absensi wajah untuk pegawai mereka. Selain itu tidak sedikit pula vendor smartphone yang menerapkan teknologi biometrik pengenalan wajah ini untuk mengaktifkan perangkat tersebut.

Teknologi Pemindai Wajah Dan Kelebihannya

Salah satu hasil teknologi biometrik pertama yang berhasil diterapkan oleh manusia adalah sidik jari. Manfaat utama dari pemakaian teknologi ini yaitu agar bisa mengetahui dan mencari identitas seseorang.

Kemudian dalam perkembangan selanjutnya, teknologi tersebut mulai tergantikan dengan adanya penemuan baru yang lebih canggih dan modern bernama face recognition dan di Indonesia lebih terkenal dengan nama pemindai wajah atau pengenalan wajah. Hal inilah yang nanti akan memiliki kaitan erat dengan arti wajah oriental terutama dalam metode penerapannya.

Sebelumnya perlu diketahui apabila teknologi biometrik pemindai wajah atau face recognition memiliki banyak sekali kelebihan. Satu diantaranya adalah sistem penerapannya tidak memerlukan perabot yang banyak, hanya berupa kamera khusus dan komputer.

Selain itu, sistem pemakaiannya sangat mudah dan praktis dijalankan. Pengguna hanya diharuskan memperlihatkan muka atau wajah pada mesin pemindai. Sehingga proses ini hanya membutuhkan waktu dalam hitungan detik saja. Sedangkan pada smartphone, ketika ingin mengaktifkan maupun membuka ponsel pintar tersebut, pemiliknya tinggal membuka kamera selfie.

Kelebihan berikutnya, teknologi biometrik pemindai wajah memerlukan biaya lebih rendah untuk perawatannya dibanding teknologi sidik jari. Bukan itu saja, proses kerjanya juga sangat cepat dan tentu saja akan berdampak pada penghematan waktu. Sangat jauh berbeda dengan mesin absensi kartu yang antriannya sering menimbulkan antrian panjang.

Sistem Kerja

Secara umum teknologi biometrik face recognition yang sering diterapkan pada pemakaian mesin absensi wajah dan smartphone bekerja dengan cara mengenal karakteristik wajah penggunanya. Karakteristik wajah ini terbagi menjadi tiga tingkatan.

1. Karakteristik Global

Tingkat pertama, karakeristik global merupakan karakter yang paling mudah diamati. Contohnya bentuk atau geometri wajah beserta warna kulit. Untuk bentuk wajah secara mudah bisa ditentukan misalnya lonjong, kotak atau bulat. Demikian pula dengan warna kulit seperti kuning, coklat atau putih.

2. Karakteristik Lokal

Lanjut ke tingkat kedua karakteristik lokal, merupakan proses pengamatan terhadap semua elemen yang terdapat dalam wajah. Misalnya paras muka, bentuk hidung atau mulut dan sebagainya. Pada tingkatan ini, biasanya direpresentasikan melalui informasi geometrik dan deskriptor yang terdapat di tekstur wajah.

3. Karakteristik Mikro

Terakhir untuk karakteristik ketiga, berupa karakteristik mikro. Proses pengamatannya ditujukan pada bagian-bagian wajah yang tidak terstruktur. Misalnya adanya goresan atau luka di kulit wajah atau perubahan warna kulit karena obat-obatan hingga berbagai informasi lainnya. Pengamatan ini lebih sering dilakukan pada pengguna atau manusia kembar, khususnya kembar identik.

Masalah Dan Pemecahan

Banyak yang mengatakan bahwa teknologi biometrik pemindai wajah mempunyai tingkat akurasi sangat tinggi bahkan ada yang menyebutkannya hingga mencapai 100%. Sistem algoritma dalam teknolgi ini juga sering disebutkan mampu mengenal wajah orang meskipun orang tersebut sedang mengenakan kacamata dan topi. Bahkan apabila ada yang memakai pewarna rambut, tetap dapat dikenali.

Tetapi sayangnya masih terdapat beberapa masalah yang sering muncul terkait dengan penggunaan teknologi biometrik. Masalah tersebut berhubungan erat dengan arti wajah oriental khususnya di negara China, dimana hampir semua penduduknya memang berparas oriental.

Jadi ketika digunakan pada alat absensi karyawan maka terjadinya risiko kesalahan selalu ada. Apalagi jika dipakai oleh instansi-instansi lebih tinggi misalnya kepolisian, tentu risiko kesalahan tersebut akan semakin bertambah besar. Terlebih lagi ketika diterapkan untuk mengungkap suatu tindak kejahatan.

Contoh paling nyatanya pernah terjadi beberapa wajtu lalu di negara tirai bambu China dan Korea. Ada banyak sekali pengguna smartphone dari kedua negara tersebut yang menceritakan jika alat pemindai wajah atau biometrik pengenalan wajah yang terdapat pada perangkat miliknya tersebut bisa dibuka oleh dua orang sekaligus yang kebetulan sama-sama memiliki wajah berparas oriental.

Sehubungan dengan hal ini harus dipahami, bahwa makna atau arti wajah oriental adalah sebuah sebutan yang sifatnya umum dan ditujukan oleh wajah-wajah orang yang berasal dari Asia Timur. Pada umumnya, mereka berasal dari tiga negara, masing-masing adalah Jepang, Korea dan China.

Kata oriental sendiri sebenarnya merupakan istilah yang berasal dari bahasa Inggris, The Orient yang mengandung arti ‘timur’. Beberapa ciri utama yang dimiliki oleh orang-orang dengan wajah oriental ini antara lain adalah kulitnya berwarna putih, hidungnya berukuran kecil dan mungil serta bagian mata yang juga kecil bahkan ada yang mengatakannya sebagai mata sipit.

Dari penjelasan tersebut akhirnya bisa kembali lagi pada pokok permasalahan. Melalui kasus yang sudah terjadi seperti yang disebutkan di atas, maka dapat disimpulkan apabila teknologi biometrik pemindai wajah belum sepenuhnya aman digunakan. Masih ada beberapa masalah yang sebaiknya diselesaikan lebih dulu sebelum diterapkan secara total di masyarakat.

Sementara itu, pada sisi yang lain dalam kenyataannya sebenarnya teknologi biometrik pemindai wajah telah mengalami perkembangan dan kemajuan yang sangat siginifikan. Terlebih lagi setelah berhasil ditemukan sistem pengenalan atau pemindai wajah melalui metode 2D (dua dimensi) dan 3D (tiga dimensi).

Penerapan teknologi terbaru pada hasil teknologi biometrik tersebut sudah mulai dijalankan sejak tahun 2017 lain meski masih dalam skala yang terbatas saja. Namun besar kemungkinan, di tahun 2020 mendatang jumlah penggunanya akan semakin bertambah banyak. Terutama dalam sistem pemakaian perangkat absen wajah di lingkungan perusahaan dan smartphone.

Apalagi dengan adanya teknologi lain yang dapat dikombinasikan, yaitu berupa multi spectra yang terdiri dari ingrared, near infrared dan visible. Hasil dari pemindaian wajahnya akan menjadi lebih lengkap dan akuran. Bukan itu saja, teknologi ini juga dapat diaplikasikan terhadap kasus kriminal melalui sketsa forensik.

Sketsa forensik ini dibuat berdasarkan keterangan dan hasil ingatan dari korban atau saksi. Setelah itu digabung dengan biometrik sidik jari yang ada di tempat peristiwa. Berikutnya dilakukan suatu proses lain yaitu ekstraksi karakteristik berupa perbandingan data-data foto yang paling mirip.

Jadi kesimpulannya, pernyataan tentang arti wajah oriental pada penerapan teknologi biometrik pemindai wajah sudah terselesaikan solusinya. Sehingga pada saatnya nanti pasti sangat aman dan tidak menimbulkan masalah besar lagi saat digunakan.