Sensor Gelombang Otak Lebih Aman Dibandingkan Sidik Jari Dan Retina

Seiring berjalanannya waktu, teknologi juga merambah semakin pesat. Seperti 30 tahun yang lalu, orang masih bermimpi bisa berkomunikasi sambil menatap wajah melalui layar komputer dalam serial hero anak-anak di TV, sekarang mimpi itu terwujud dalam bentuk video call. Pun ketika jaman dahulu orang hanya bisa bermimpi hanya dengan menyentuhkan tangan, suatu perintah sudah bisa dilakukan. Sekarang, biometrik sudah mampu mewujudkan itu semua.

Mungkin anda akan bertanya. Apa itu biometrik dan mengapa bisa menujudkan semua mimpi itu? Bagi yang berkecimpung di dunia teknologi elektronik, mungkin sudah tidak asing lagi dengan kata biometrik dan segala pengaplikasiannya dalam kehidupan sehari-hari. Tapi bagi yang awam dalam bidang ini, tidak ada salahnya anda sedikit tahu tentang salah satu teknologi yang ikut andil dalam mengubah kualitas hidup manusia ini.

Dari asal katanya, biometrik berasal dari bahasa Yunani, yaitu bios yang artinya hidup dan metron yang artinya mengukur. Sedangkan secara devinisi, biometrik adalah pengetahuan mengenai karakterikstik bioligi yang bisa diukur. Dimana dalam dunia teknologi infirmasi bisa dimanfaatkan untuk menganalisa fisik sebagai dasar autentifikasi.

Ada banyak orang yang telah banyak memanfaatkan teknologi biometrik ini. Namun ada diantara mereka yang belum paham bahwa sebagian teknologi yang mereka manfaatkan dalam kehidupan sehari-hari adalah hasil dari biometrik. Diantaranya :

1. Pemindai Sidik Jari

Ini sering digunakan sebagai absen fingerprint pada daftar kehadiran karyawan di kantor. Teknologi biometrik ini memanfaatkan sidik jari masing-masing orang untuk mengisi daftar absen melalui sidik jari. Pemindai sidik jari ini juga dimanfaatkan sebagian teknologi smartphone untuk mengenali jari pemiliknya sebagai cara pembuka kunci layar.

2. Pemindai Wajah

Cara yang digunakan mesin pemindai wajah adalah dengan mengenali setiap struktur pada wajah. Seperti bentuk hidung, alis, bibir, mata dan lainnya. Banyak yang mengatakan ini lebih aman jika dibandingkan dengan pemindai sidik jari.

3. Pengenal Suara

Selain pemindai wajah dan sidik jari, pengenal suara juga banyak digunakan untuk akses membuka data, pintu, dan lain sebagainya. Karena suara masing-masing orang berbeda.

4. Pemindai Retina

Dalam hal keamanan, pemindai retina masih sangat bisa diandalkan. Karena karakteristik retina setiap orang berbeda-beda. Sehingga bisa dimanfaatkan sebagai akses dan keamanan sebuah pintu masuk.

5. Pemindai Iris

Dibanding dengan retina, pemindai iris ternyata lebih akurat. Karena pola unik pada iris tetap bisa menghasilkan data yang akurat meskipun orang yang bersangkutan bergerak atau berubah posisi.

6. Sensor Gelombang Otak

Selain pemindai sidik jari, pemindai wajah, pemindai retina dan pemindai iris, ada satu lagi teknologi biometrik yang bisa dinanfaatkan sebagai password, yaitu sensor gelombang otak. Bahkan ada sebagian ahli yang mengatakan bahwa gelombang otak menghasilkan keunikan pada tiap manusia. Sehingga tidak bisa dipalsukan.

Meskipun pemindai sidik jari, retina ataupun iris telah diklaim lebih aman jika dibandingkan mengetik huruf-huruf, namun ada yang bisa lebih aman, yaitu sensor gelombang otak. Sekalipun masih dalam tahap penelitian, sensor gelombang otak ternyata bisa juga digunakan sebagai password untuk masuk atau membuka sebuah halaman.

Biometrik dengan menggunakan gelombang otak ini pernah diteliti oleh seorang asisten profesor bidang computer science and enginering di universitas buffalo dan the state university of new york yang bernama Wenyao Xu dan Feng Lin. Dari penelitian yang dilakukan oleh tim mereka, dihasilkan bahwa gelombang otak manusia menghasilkan biometrik yang cukup unik.

Bagaimana keunikan itu bisa terjadi? Misalkan saat otak manusia dihadapkan pada satu pemicu tertentu, seperti diperlihatkan gambar atau mendengarkan musik. Secara otomatis otak akan menghasilkan gelombang listrik yang bisa diukur oleh sebuah sensor. Hasil dari pengukuran tersebut akan selalu sama diwaktu berbeda. Hal inilah yang dimanfaatkan untuk patokan biometrik seperti sidik jari, retina, iris maupun struktur wajah.

Namun dengan pemicu yang sama dihadapkan pada orang lain, gelombang otak yang dihasilkan tidak akan sama lagi. Artinya, dari individu satu ke individu lain tidaklah sama. Maka, dengan hasil seperti ini bisa disimpulkan bahwa gelombang otak bisa dijadikan dasar pengukuran biometrik dengan akurat.

Tak perlu takut hasil reaksi gelombang otak ini bisa dimanipulasi. Karena respon dari pemicu yang dihasilkan tidak bisa diatur secara sadar. Sebab semua yang terjadi tanpa kesadaran dari manusia itu sendiri.

Beberapa ilmuan dari Binghamton university pernah melakukan penelitian terkait dengan pemindai otak ini. Mereka menamakan brintpaint. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pemindai di kepala yang dinamakan electroencephalogram atau bisa disingkat dengan EEG. Pengguna alat ini diperlihatkan 500 gambar dalam waktu 2 detik. Lalu mendeteksi dan memeriksa respon otak dari gambar yang ditampilkan tersebut. Didapatkan hasil bahwa software dari sitem brintpaint tersebut mampu menentukan siapa saja yang memiliki hak akses. Dari 30 responden yang digunakan, alat tersebut mampu mengenali orang yang sesuai dengan prosentase keakuratan sebanyak 100 persen.

Kelebihan Dan Kelemahan Sensor Gelombang Otak

Dari keterangan di atas, ada beberapa kelebihan password dari teknologi biometrik gelombang otak, antara lain:

1. Password Lebih Aman

Tidak seperti password bentuk fisik lainnya yang bisa menjadi sasaran hacker. Password gelombang otak tidak berbentuk fisik. Sehingga lebih aman. Tidak juga berbentuk tulisan yang mana pemiliknya rentan dengan resiko lupa.

2. Tidak Bisa Dibajak

Salah satu keunggulan password gelombang otak adalah tidak bisa dipaksa dibuka. Misalkan pemilik password dipaksa membuka data dibawah ancaman orang lain. Data itu tetap tidak akan bisa dibuka karena aktifitas otak akan berubah ketika dalam keadaan dibawah tekanan orang lain. Berbeda dengan sidik jari, retina, iris maupn scan wajah. Dimana semua itu tetap bisa dipaksa untuk diberikan dibawah tekanan pihak lain.

Namun sayangnya, meski dari sisi kemanan sudah bisa dikatakan lebih baik, password gelombang otak tetap saja masih ada kelemahan. Beberapa kelemahannya antara lain:

1. Belum Bisa Dikomersialkan

Tidak seperti sidik jari yang sudah banyak dipakai di beberapa instansi perkantoran, pemindai wajah yang sudah diaplikasikan pada beberapa produk smartphone atau pemindai iris dan retina yang telah banyak dikomersialkan. Sampai saat ini password gelombang otak masih menjadi bahan penelitian. Belum bisa dikomersialkan secara luas. Mengingat masih banyak hal yang harus disempurnakan lagi.

2. Alat Sensor Yang Belum Praktis

Untuk bisa mendapatkan respon dari gelombang otak, penggunanya diharuskan untuk memasang alat sensor pada kelapa. Ini adalah salah satu kelemahan karena terkesan kurang praktis. Tidak sepraktis pada sidik jari, scan wajah atau retina.

Dari kelebihan dan kelemahan di atas, tidak menutup kemungkinan suatu saat gelombang otak bisa digunakan sebagai salah satu sistem biometrik layaknya scan wajah atau absen fingerprint. Semoga segera di komersialkan secara luas agar anda bisa memanfaatkannya.

Leave a Reply