Sejarah Fingerprint Sebagai Teknologi Sehari-Hari

Anda tentu mengenal fingerprint atau sidik jari bukan ? Seperti yang telah kita ketahui, masing-masing orang memiliki sidik jari yang unik dan berbeda, bahkan pada kembar identik sekalipun. Para ilmuwan menyebutkan bahwa sidik jari merupakan untaian rangkaian unik kode DNA seseorang yang tertuang di bagian bawah kulit jari-jari tangan. Oleh karena keunikan sidik jari inilah, para ahli teknologi kemudian membuat beberapa teknologi yang melibatkan pola-pola sidik jari untuk mengidentifikasi berbagai macam hal yang berhubungan dengan manusia. Lantas bagaimana awal sejarah fingerprint menjadi sebuah teknologi yang cukup jamak saat ini?

Masa-Masa Awal Penggunaan Teknologi Sidik Jari

Awal mula sejarah fingerprint dikembangkan sebagai teknologi sehari-hari dimulai sekitar tahun 1890 saat seorang ilmuwan dari Inggris bernama Sir Francis Galton mengemukakan sebuah gagasan ilmiah dalam menggunakan sidik jari untuk mengidentifikasi seorang pelaku perbuatan kriminal. Awalnya pada sekitar tahun 1880, secara ilmiah Galton mempelajari sidik jari untuk menyelidiki kesamaan genetik dan pola keturunan. Pada penelitian tersebut, Galton menarik kesimpulan bahwa tidak ada satupun sidik jari yang sama meski memiliki tipe yang sama, titik-titik pada sidik jari masing-masing orang berbeda-beda. Berdasarkan hal tersebut, Galton menyatakan bahwa sidik jari bisa digunakan untuk mengenali identitas seseorang.

Sejarah fingerprints terus bergulir pada tahun 1892, Galton menerbitkan buku berjudul ”Fingerprints” yang memuat seluruh temuan ilmiahnya mengenai sidik jari. Konsep sidik jari paling terkenal dari Galton adalah tipe-tipe sidik jari yang kita kenal saat ini yaitu lingkaran (loop), lengkungan (arch), dan tipe ulir (whorl). Ketiga tipe atau pola dasar inilah yang menjadi panduan awal menentukan pola sidik jari seseorang yang kemudian ditambah dengan titik-titik unik dalam pola dasarnya.

Setelah Galton menerbitkan bukunya tersebut, para penegak hukum di berbagai negara mulai menerapkan konsep identifikasi sidik jari untuk mengenali para pelaku kriminal. Sir Edward Richard Henry, seorang aparat kepolisian Inggris yang bertugas di India menjadi salah satu pionir dalam menerapkan sistem identifikasi sidik jari bagi para pelaku kriminal di India. Sir Edward Richard Henry bahkan dapat mengumpulkan seribu lebih data sidik jari para pelaku kriminal di India dengan cara manual (kartu sidik jari).

Pada sekitar awal abad ke-20, Scotland Yard (Kepolisian Inggris) mulai membangun sistem identifikasi sidik jari yang berdasar pada sistem yang dikembangkan oleh Sir Edward Richard Henry dan mendirikan biro pusat sidik jari di kantor Kepolisian Inggris. Sejarah fingerprint terus berkembang tidak hanya di benua Eropa, namun juga merambah ke benua Amerika. Pada sekitar tahun 1903, New York Police Department (NYPD), The New York State Prison System dan Federal Bureau of Prison mulai mengadopsi sistem sidik jari bagi para pelaku kriminal.

Pada tahun 1905, US Army (Angkatan Darat Amerika Serikat) juga mulai menggunakan sistem ini untuk mendata seluruh anggotanya. FBI juga mulai menggunakan sistem identifikasi sidik jari pada tahun 1924 khususnya bagi para pelaku kriminal. Hingga saat ini, FBI dan kepolisian negara lain termasuk Indonesia telah mengembangkan sistem identifikasi sidik jari yang canggih.

Sejarah Awal Penggunaan Sidik Jari Di Indonesia

Sejarah fingerprint di Indonesia juga tak kalah menariknya bila dibandingkan dengan di luar negeri. Awal pengenalan ilmu sidik jari di kepolisian dirintis oleh seorang tentara Jerman yang lari dari SS Nazi dan bergabung dengan tentara Hindia Belanda untuk ditugaskan di Indonesia. Tentara tersebut bernama Gustav Poppeck. Setelah selesai Perang Dunia I (PD I), Poppeck mendaftar sebagai polisi Hindia Belanda di Indonesia dan memulai pendidikan polisi di Sukabumi.

Selesai dari pendidikan polisi, Poppeck ditempatkan di Makassar untuk bertugas di bagian kriminal. Saat di Makassar inilah, Poppeck banyak mengenalkan dan mengembangkan konsep sidik jari untuk identifikasi identitas seseorang. Penggunaan sidik jari secara lebih tertata di Indonesia mulai dikembangkan pada sekitar tahun 1959 – 1960 dengan dibangunnya sistem identifikasi sidik jari baik untuk keperluan penegakan hukum atau untuk kepentingan kependudukan. Meski pengembangan sistem identifikasi sidik jari di Indonesia terbilang masih baru dan masih banyak yang harus dikembangkan, namun teknologi ini sudah cukup membantu berbagai keperluan pendataan kependudukan di Indonesia.

Penggunaan Teknologi Sidik Jari Saat Ini

Sejarah fingerprint awal memang banyak digunakan dalam bidang penegakan hukum, namun pada perkembangannya teknologi sidik jari juga mulai digunakan untuk kehidupan sehari-hari. Salah satu yang sering kita temui adalah mesin absen fingerprint yang saat ini dipasang di hampir semua kantor baik swasta maupun pemerintah. Mesin ini menggunakan identifikasi sidik jari para pegawainya untuk memantau kehadiran pegawai yang bersangkutan. Pada setiap awal dan akhir jam kerja, pegawai harus menempelkan sidik jarinya sebagai bukti kehadirannya. Teknologi ini memungkinkan sebuah perusahaan atau kantor pemerintah memantau kehadiran pegawainya karena pegawai tidak mungkin memalsukan sidik jari miliknya yang unik dan tidak mungkin sama dengan orang lain.

Teknologi fingerprint di Indonesia juga digunakan dalam proses pembuatan dokumen-dokumen identitas seperti elektronik Kartu Tanda Penduduk (e-KTP), Surat Ijin Mengemudi (SIM) dan pembuatan paspor. Sidik jari para penduduk yang terekam dalam berbagai kartu identitas ini akan digunakan dalam berbagai keperluan seperti akses dalam pelayanan kesehatan atau pelayanan sosial lain. Data sidik jari juga telah terintegrasi dengan data kepolisian, sehingga jika ada pelaku kriminal yang melakukan kejahatan dan meninggalkan jejak sidik jari di tempat kejadian perkara (TKP) maka akan mudah teridentifikasi dan tertangkap oleh Polisi.

Seiring dengan kemajuan jaman, teknologi identifikasi sidik jari saat ini bahkan dapat diaplikasikan di berbagai gawai cerdas. Sebagai contoh adalah teknologi identifikasi sidik jari pada telepon pintar (smartphone). Teknologi sensor sidik jari pada telepon genggam ini pertama kali diperkenalkan oleh produsen telepon pintar IPhone yang dirintis oleh almarhum Steve Jobs. Teknologi ini memperkenalkan identifikasi sidik jari untuk membuka telepon genggam yang telah terkunci sebelumnya. Teknologi ini diklaim menjadi salah satu teknologi canggih untuk menjaga keamanan isi telepon genggam karena tidak ada yang bisa membuka isi telepon kecuali pemilik telepon yang sidik jarinya telah terekam dalam data telepon pintar tersebut.

Sejarah penggunaan sidik jari ini memang semakin lama semakin canggih, seolah senantiasa mengikuti perkembangan teknologi di zaman modern ini. Sidik jari memang merupakan salah satu teknologi biometrik yang banyak dimanfaatkan oleh manusia karena keunikan sidik jari yang juga ciptaan Tuhan Yang Maha Esa sangat sulit untuk dipalsukan. Selain itu, penggunaan sidik jari sebagai identifikasi juga cukup mudah karena tidak membutuhkan prosedur khusus atau prosedur yang menyakitkan, hanya dengan menempelkan ujung jari-jari tangan, sidik jari seseorang sudah dapat direkam dan dimasukkan dalam pusat data.