Penerbangan Domestik Perlu Paspor Jenis Apa?

Apakah penerbangan domestik perlu paspor seperti jika ke luar negeri? Bepergian menggunakan pesawat terbang mungkin menjadi pengalaman tersendiri untuk yang jarang melakukanya, walau sebenarnya tidak berbeda jauh dengan menaiki bus patas. Yang membuatnya berbeda ialah Anda diharuskan melakukan proses check in serta boarding pass, proses ini berlangsung beberapa saat sebelum bisa masuk pesawat serta membutuhkan identitas Anda.

Identitas yang dapat digunakan pada proses ini ialah, KTP, SIM, KK atau Paspor, tergantung mana yang Anda pilih serta Anda kehendaki. Kebanyakan dalam melakukan penerbangan domestik orang-orang banyak menggunakan ktp sebagai identitas, dan Paspor untuk penerbangan internasional, namun apakah perlu Paspor untuk penerbangan domestik.

Definisi Dan Fungsi Paspor

Sebelum menjawab apakah penerbangan domestik perlu paspor, Anda harus tahu tentang definisi, jenis dan fungsi paspor. Paspor merupakan buku yang berisi identitas disertai foto, sebagai pengganti KTP bila berada di luar negeri. Biasanya paspor digunakan oleh orang-orang yang sering bepergian keluar negeri, baik dalam urusan pekerjaan, study ataupun ibadah dan liburan. Setiap warga negara asing yang memasuki wilayah di luar negaranya sangat membutuhkan paspor sebagai tanda kelegalan tujuan memasuki negara tujuannya.

Sebagai tanda identitas atau tanda pengenal pengganti, paspor berlaku di seluruh dunia, baik siapapun negara yang mengeluarkanya. Paspor juga dilengkapi lambang negara serta stempel dari badan imigrasi negara. Maka dari itu, paspor dapat digunakan sebagai tanda pengenal sementara bagi warga negara yang berada di luar negeri. Paspor juga bisa menjadi bahan acuan ada tujuan apa Anda mengunjungi negara tersebut, hal ini dapat dilihat berdasar warna paspor.

Di Indonesia ada 3 jenis paspor yang digunakan, yaitu paspor bersampul hijau (umum) yang merupakan paspor yang menunjukan bahwa Kita merupakan warga sipil biasa yang bertujuan untuk traveling, ibadah atau study. Ada juga paspor bersampul biru, ini sifatnya untuk orang-orang yang sering berdinas atau urusan pekerjaan di luar negeri. Yang ketiga ada paspor diplomatik, yaitu paspor bagi delegasi-delegasi atau utusan negara ke negara terkait. Ada juga paspor biometrik, dimana paspor biometrik adalah jenis yang mengandalkan unsur teknologi terkini.

Paspor berisi sekitar 24-48 halaman, masa aktifnya kurang lebih sekitar 5 tahun, setelah masa tersebut habis paspor dapat diperpanjang kembali. Lembaran-lembaran pada paspor diperuntukan untuk visa atau dokumen atau surat jalan untuk memasuki teritori negara lain. Visa adalah dokumen yang juga dikeluarkan serta disetujui oleh Direktorat Keimigrasian, Kementrian Hukum dan HAM. Sehingga dengan melihat visa yang tertempel pada paspor pihak imigrasi negara tujuan bisa mengetahui apa maksud dan tujuan Anda datang ke negara tersebut. Semua lebaran itu ditempel di dalam paspor.

Cara Pengajuan Paspor

Sebaiknya Anda mengurus penerbangan domestik perlu paspor untuk data diri. Cara pengajuan paspor ini cukuplah mudah. Anda hanya perlu membawa dokumen seperti KTP, kartu keluarga, atau surat kelahiran dan semuanya di fotocopy, lalu menyetujui surat permohonan serta perjanjian pembuatan paspor. Namun waktu tunggunya kurang lebih membutuhkan 1 minggu kerja atau sekitar 2 minggu.

Apakah Penggunaan Paspor Perlu Untuk Penerbangan Domestik?

Saat ini memang penggunaan paspor hanya untuk orang-orang yang bepergian ke luar negeri, tetapi banyak yang bertanya akankah penerbangan domestik membutuhkan paspor. Saat ini sebetulnya paspor sudah digunakan pada penerbangan domeatik sebagai pengganti bila penumpang tidak memiliki Ktp atau tidak membawanya.

Karena saat ini paspor sudah menjadi identitas yang sah baik di dalam negeri maupun di luar negeri, hanya bila di dalam negeri KTP atau SIM lebih favorit penggunaanya. Bukan hanya penerbangan menginap di hotel juga sudah menerima paspor sebagai identitasnya. Namun di luar itu semua, ada yang menganggap kelengkapan paspor serta kemudahannya dianggap perlu untuk penerbangan dalam negeri. Sehinga ada beberapa pihak beranggapan penerbangan domestik juga butuh paspor.

Paspor terdiri dari berlembar-lembar di dalamnya, banyak yang terfikir mengapa tidak menggunakan lembar-lembar tersebut sebagai boarding pas. Bila boarding pas dapat berupa lembaran serta di tempel pada lembaran-lembaran paspor maka Kita tidak perlu repot-repot menyimpanya. Karena semuanya sudah bisa tersimpan rapi pada paspor. Selain itu kita juga tidak banyak-banyak membawa perlengkapan pada saat check in serta boarding penerbangan.

Selain itu, di dalam paspor tentu tersimpan identitas Kita beserta dengan foto Kita, hal ini dirasa paspor dapat menggantikan peran KTP sebagai identitas khusus penerbangan. Dokumen-dokumen penerbangan dianggap bisa dijadikan 1 dengan paspor sehingga penumpang tidak perlu membawa berbagai macam dokumen. Selain itu hal ini juga dapat mempermudah petugas untuk melayani check in ataupun boarding.

Dalam beberapa waktu belakangan telah dikembangkan paspor berbasis online atau elktronik. Paspor ini dilengkapi oleh sebuah chip atau barcode yang memungkin kan menyimpan semua database penumpang. Hal ini tentu memudahkan kita untuk menggunakan penerbangan secara mudah dan cepat. Dilengkapi chip atau barcode seharusnya dapat memberikan kemudahan bagi penumpang karena dalam chip atau barcode kita bisa menyimpan data penumpang melalui database ketika discan di mesin barcode. Sehingga selain check in dan boarding e-paspor dapat memudahkan penumpang dalam hal pemesanan serta pembelian tiket.

Kebutuhan penerbangan domestik terhadap paspor, ditenggarai pula oleh permasalahan melambungnya harga tiket penerbangan domestik. Hal tersebut ditenggarai memberikan efek peningkatan pembuatan paspor di beberapa daerah nusantara. Banyak penumpang penerbangan domestik memilih untuk transit terlebih dahulu di luar negeri, demi mendapat harga yang murah dalam mencapai tujuan.

Seperti beberapa penumpang dari aceh menuju Jakarta, mereka memilih untuk transit di malaysia terlebih dahulu karena tiket secara keseluruhan lebih murah dibandingkan dengan langsung menuju Jakarta. Fenomena ini membuat warga Aceh berbondong-bondong mendatangi kantor imigrasi untuk membuat paspor, yang merupakan sarat penting dalam memasuki wilayah teritori negara lain. Fenomena ini tidak pernah terjadi sebelumnya.

Fenomena ini merupakan dampak dari naiknya minyak dunia serta bahan bakar pesawat khususnya, yang membuat maskapai dengan mau tidak mau harus menaikan harga tiket demi menutupi biaya operasional. Terbukti, dibeberapa tujuan kenaikan harga penerbangan cukup tinggi terutama penerbangan tujuan pulau jawa. Sebut saja Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Bandung serta Semarang mengalami kenaikan yang cukup signifikan, sekitar 100% atau dua kali lipat dari harga semula.

Namun di luar itu semua, justru banyak penerbangan menuju luar negeri dipatok dengan harga dibawah itu, sehingga banyak penumpang penerbangan lebih memilih transit di luar negeri dahulu ketimbang langsung menuju tujuan dengan penerbangan domestik. Banyak penumpang yang menganggap itu merupakan sebuah solusi, untuk mendapatkan harga penerbangan sesuai kantong penumpang.

Keadaan demikian membuat para penumpang mengajukan pembuatan paspor demi kepentingan transit. Menurut Direktorat Jenderal Imigrasi, fenomena seperti ini memang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun kita harus menyikapinya dengan tenang. Pemerintah berjanji akan mencoba kembali menurunkan tarif penerbangan domestik menjadi seperti semula, agar masyarakat tidak perlu repot-repot transit dahulu dalam melakoni penerbangan.