Kelebihan Mesin ATM Menggunakan Sistem Jaringan Biometrik Dan Tantangannya

ATM (Anjungan Tunai Mandiri atau Automated Teller Machine) adalah suatu perangkat elektrolik yang memiliki manfaat utama bagi nasabah bank untuk mengambil uang dan kegiatan perbankan lainnya secara mandiri. Jadi mereka tidak perlu datang ke kantor bank atau teller untuk melakukan semua kegiatan tersebut. Hal ini disebabkan karena mesin ATM menggunakan sistem jaringan khusus yang membuat transaksi-transaksi perbankan tersebut aman dan praktis dilakukan.

Penjelasan Singkat

Setiap ATM selalu membutuhkan kartu yang berfungsi sebagai sarana perantara antara pengguna ATM dan mesin ATM. Kartu ini selalu dilengkapi dengan semacam garis dan seringkali disebut sebagai Magnetic Chip. Manfaatnya adalah untuk melakukan sensor atau deteksi terhadap pemilik kartu ATM itu sendiri. Prosesnya dilakukan melalui pin atau password.

Magnetic Chip ini memiliki sifat yang sangat sensitif. Misalnya jika terkena gesekan apalagi oleh benda tajam, fungsinya tidak akan bisa berjalan lagi sehingga mesin ATM juga tidak akan mampu lagi melakukan pendektesian. Hal inilah yang menjadi salah satu kelemahan dari kartu ATM yang dibuat Magnetic Chip.

Sementara itu, di sisi yang lain beberapa tahun lalu di Indonesia telah beredar yang namanya ATM Bersama. Penggunaan istilah ini merujuk pada kerjasama atau gabungan beberapa bank pada satu layanan nasabah dengan cara menggunakan sebuah sarana penghubung, yaitu berupa ATM. Dalam hal ini, sebuah mesin ATM bisa digunakan untuk melayani nasabah dari bank-bank yang berbeda-beda melalui sistem komputerisasi dan telekomunikasi.

Selain itu, pada saat ini, semua jenis mesin ATM yang diletakan di kantor-kantor bank dan tempat-tempat stragegis lainnya selalu dilengkapi dengan kamera CCTV yang bagus. Tujuan utama dari penggunaan kamera CCTV ini adalah untuk pengamanan bagi nasabah sendiri maupun pihak bank agar terhindari dari penyalahgunaan kartu ATM. Terutama sekali yang berhubungan dengan kasus penipuan atau kesalahan transaksi perbankan dan sebagainya.

Hanya saja dalam perkembangannya penerapan sistem ATM menggunakan jaringan dan kamera CCTV yang bagus ini dianggap sudah tidak memadai lagi. Karena meski telah dilengkapi dengan berbagai teknologi keamanan yang canggih, namun ternyata masih bisa dibobol oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Khususnya kasus pencurian uang nasabah hingga data-data penting milik perbankan.

Salah satu jenis tindak kejahatan yang paling sering terjadi terkait dengan penyalahgunaan mesin ATM dan kartu ATM adalah skimming. Istilah ini mengandung arti adanya pencurian uang dalam jumlah besar-besaran dan dilakukan dengan metode penggandaan kartu ATM dan pencurian PIN atau password yang merupakan milik dari pengguna ATM yang asli.

Teknologi Biometrik

Berdasarkan kondisi yang disebutkan di atas maka diciptakanlah sebuah teknologi terbaru yang dinamakan sebagai ATM biometrik. Namun sebelum membahas tentang hal ini ini, harus dipahami lebih dulu arti dari biometrik itu sendiri.

Biometrik adalah suatu teknik dan sistem komputerisasi yang biasanya dilakukan dengan cara memanfaatkan beberapa aspek atau unsur biologi, khususnya karakteristik tertentu yang terdapat pada tubuh manusia. Maksud daru karakteristik tertentu atau karakteristik unik tersebut antara lain adalah paras wajah, sidik jari, retina mata, getar suara, dan sebagainya.

Sementara itu, untuk istilah biometrik berasal gabungan kata bahasa Yunani, yaitu bios yang memiliki arti hidup dan metron yang bermakna mengukur. Sehingga secara garis besar, biometrik bisa diberi makna sebagai pembelajaran terhadap hal-hal yang berhubungan dengan karakteristik biologi yang dilakukan secara terukur.

Selain itu dalam bidang teknologi khususnya teknologi informasi, disebutkan apabila biometrik adalah sebuah hal yang sangat relevan bahkan mempunyai nilai kegunaan tinggi. Terutama untuk melaksanakan kegiatan analisa fisik sekaligus perilaku manusia terhadap autentifikasi.

Sebagian masyarakat awam, kemungkinan besar merasa bingung saat mendapat penjelasan beserta makna dari biometrik sebagaimana yang dijelaskan di atas. Selain itu banyak pula yang belum atau tidak menyadari, bahwa sebenarnya mereka sudah sering menggunakan teknologi tersebut bahkan dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya pemindai sidik jari dalam ijazah kelulusan sekolah, yang tidak lain merupakan salah satu hasil penemuan pertamakali di bidang teknologi biometrik. Kemudian ada smartphone atau ponsel pintar keluaran terbaru yang menggunakan sistem pemindai wajah untuk mengaktifkannya.

Lalu ada e-KTP (Kartu Tanda Penduduk) dengan metode pemindai retina mata dan masih banyak lagi. Bahkan selain itu ada biometrik yang dilakukan berdasarkan atas karakter suara, bulu rambut dan sebagainya.

Pemanfaatkan Teknologi Biometrik Dalam Penggunaan ATM

Cara kerja mesin ATM menggunakan sistem jaringan biometrik didasarkan kepada kombinasi tiga perangkat sekaligus. Pertama adalah kartu ATM kemudian yang kedua adalah pin dan yang ketiga berupa sidik jari atau pemindai wajah dari pemilik kartu ATM.

Misalnya ketika ada penjahat yang berniat tidak baik dan ingin mencuri uang melalui kartu ATM dan pin, meski sudah berhasil melakukan skimming tetap tidak bisa menjalankan niatnya tersebut. Hal ini dikarenakan mereka tidak bisa memanfaatkan kartu ATM yang sudah di-skimming, sebab sidik jari maupun pemindai wajahnya jelas berbeda. Dipastikan, mesin ATM secara otomatis akan menolak akibat adanya perbedaan kombinasi antara kartu ATM, pin dan sidik jari atau pemindai wajah.

Dari penjelasan tersebut mungkin muncul sebuah pertanyaan lain, apakah suatu sidik jari beserta pemindai wajah dapat digandakan atau dicopy sebagaimana kartu ATM? Harus dimengerti juga, jika teknologi biometrik paling modern yang diterapkan pada mesin ATM menggunakan sistem jaringan selalu mensyaratkan adanya sidik jari atau pemindai wajah yang tertempel dalam mesin fingerprint.

Sehingga meskipun ada penjahat yang berhasil melakukan penggandaan dan pengcopyan terhadap sidik jari dan pemindai wajah milik nasabah bank, perbuatannya tersebut akan menghasilkan suatu kesia-siaan belaka. Penyebabnya tidak lain adalah karena mesin fingerprint yang terdapat di mesin ATM tidak akan dapat menjalankan pemrosesan.

Penggunaan teknologi biometrik pada kartu ATM memang membuat kartu penarik uang tunai dan transaksi perbankan tersebut tidak mudah dipindahtangankan pada orang lain. Bahkan pada orang terdekat sekalipun atau keluarga. Kartu tersebut akan benar-benar menjadi milik pribadi dan lebih aman dari kasus pencurian uang maupun tindak kejahatan perbankan lainnya.

Tantangan Yang Muncul

Setiap perkembangan dan penggunaan teknologi terbaru pasti selalu memunculkan tantangan dan konsekuensi tersendiri. Demikian pula halnya dengan penerapan teknologi biometrik untuk kartu ATM menggunakan sistem jaringan di dunia perbankan khususnya di Indonesia.

Tantangan pertamanya adalah, butuh investasi atau anggaran dalam jumlah lumayan besar apabila ingin menerapkan teknologi ini. Namun jika dilihat dari tujuan, dimana salah satunya adalah untuk mendapatkan kepercayaan dari nasabah atas pemakaian kartu ATM sekaligus jaminan keamanan, tentu saja investasi untuk mengembangkan teknologi ATM biometrik tersebut bisa menjadi sebuah keharusan.

Tantangan berikutnya, hingga sekarang pemerintah Indonesia dalam hal ini lembaga BI atau Bank Indonesia belum mengeluarkan regulasi dan aturan tentang penggunaan kartu ATM biometrik di bank-bank tanah air. Peraturan dan regulasi yang ada baru mencakup penggunaan chip beserta PIN sebanyak 6 digit pada setiap kartu ATM, termasuk juga pada sistem online di jaringan internet.

Namun pada sisi yang lain, beberapa waktu belakangan ini sudah ada beberapa bank yang secara tegas telah menyatakan kesiapannya untuk menerapkan teknologi biometrik pada pemakaian ATM nasabahnya. Jadi kesimpulannya, pemanfaatan teknologi tersebut terhadap kartu dan mesin ATM menggunakan sistem jaringan sepertinya hanya tinggal menunggu waktu yang tepat saja.