Kelebihan Dan Sistem Kerja Teknologi Biometrik Sidik Jari Pada Smartphone

Dari waktu ke waktu, fitur pada sistem keamaan penggunaan ponsel pintar atau smart phone terus mengalami perkembangan yang sangat pesat. Sebelumnya teknologi yang paling diandalkan untuk membuka perangkat tersebut adalah PIN atau password. Tetapi di masa sekarang, telah ditemukan teknologi lain yang lebih modern dan canggih yaitu biometrik sidik jari yang juga dikenal dengan sebutan bio finger atau fingerprint.

Peningkatan Jumlah Penggunaan

Sebelumnya, hanya smart phone kelas menengah atas saja yang dilengkapi dengan teknologi ini. Namun seiring dengan kemajuan yang terjadi, banyak sekali smart phone berharga ekonomis yang ikut menggunakan sistem sidik jari pada pengoperasiannya. Ada sebagian vendor yang meletakkan fingerprint pada bagian belakang persis dibawah perangkat kamera, namun ada pula yang diletakan di bagian depan.

HIS Technologi merupakan sebuah lembaga yang sering mengadakan kegiatan penelitian terhadap pasar produk-produk elektronik. Beberapa waktu lalu lembaga ini menyebutkan bahwa pada tahun 2014 lalu juga penggunaan teknologi fingerpring atau sidik jari pada smart phone, note book, dan tablet berada pada angka 316 juta unit.

Kemudian pada tahun 2015, terjadi peningkatan dalam jumlah yang lumayan besar dan jumlahnya menjadi 499 unit. Selain itu diprediksikan jika pada tahun 2020 nanti, penerapan teknologi tersebut akan semakin meningkat lagi dan jumlahnya bisa mencapai angka 1,5 miliar unit.

Hal ini membuktikan apabila penggunaan sidik jari atau fingerprint dalam perangkat smart phone akan dianggap sebagai suatu kebutuhan utama. Sehingga tidak mengherankan jika masing-masing vendor saling berlomba-lomba memberi layanan tersebut pada para pelanggannya. Tanpa adanya teknologi fingerprint di smart phone, diyakini produknya tidak akan laku di pasaran.

Kelebihan Penggunaan Sidik Jari Atau Fingerprint Pada Smart Phone

Terdapat beberapa alasan mengapa makin banyak vendor smart phone yang menerapkan teknologi biometrik sidik jari atau fingerprint terhadap sebagian besar produk-produk mereka. Diantaranya adalah sebagai berikut.

1. Tingkat Keamanan

Tidak bisa disangsikan lagi apabila sidik jari manusia memang memiliki keistimewaan yang sangat bagus dan unik. Dibandingkan pemakaian password, sidik jari jauh lebih terpercaya untuk menjaga keamanan smart phone. Tidak semua orang dapat menggunakan perangkat tersebut kecuali hanya pemiliknya saja, karena biometrik sidik jari tidak mudah ditiru atau dihack.

2. Mudah Dioperasikan

Apabila menggunakan password kemudian pemiliknya lupa dengan password tersebut maka smart phone harus direstart atau disetel ulang agar bisa dioperasikan lagi. Namun jika memakai sidik jari pemiliknya tidak perlu lagi mengingat-ingat password. Bahkan penggunaannya sangat mudah dan praktis dilakukan, tinggal menempelkan jari yang sebelumnya sudah terdaftar di perangkat.

3. Sistem Penyimpanan Data

Kelebihan berikutnya dari sidik jari atau fingerprint terletak pada sistem penyimpanan data. Semua data dan fitur yang tersimpan di smart phone hanya bisa dibuka menggunakan sidik jari pemiliknya saja. Jadi tidak ada orang lain yang dapat membukanya. Kesimpulannya, tingkat privasitasnya jauh lebih bagus dan terlindungi.

4. Praktis Dan Nyaman Untuk Melakukan Berbagai Kegiatan

Dengan adanya sidik jari, penggunaan fitur-fitur di smart phone akan menjadi semakin praktis dan nyaman. Misalnya ketika ingin foto atau berselfie, tidak perlu lagi menekan tombol fitur kamera. Caranya tinggal meletakan jari di sensor, selanjutnya kamera secara langsung akan menjalankan fungsinya. Demikian pula dengan aplikasi lain seperti alarm hingga berbagai jenis notifikasi, bisa dibuka dengan metode yang sama.

Sistem Kerja

Sebelum diaplikasikan kepada smart phone, teknologi pemindaian sidik jari atau fingerpring sudah sering dilakukan oleh lembaga FBI (Federal Bureau of Investigation atau Biro Penyelidik Federal) di negara Amerika Serikat. Pada tahun 1969, lembaga tersebut mengadakan hubungan kerjasama dengan NIST (National Institute of Standards and Technology atau Institut Nasional Standar dan Teknologi).

Tujuan terpenting dari jalinan kerjasama ini adalah untuk menciptakan metode indentifikasi yang berbasis pada biometrik sidik jari atau fingerprint. Sekitar 6 tahun setelah itu, berhasil ditemukan prototipe yang pertama.

Secara garis besar, fingerprint mempunyai peranan sebagai alat perekam sidik jari milik seseorang. Selanjutnya pola-pola tertentu dari hasil rekaman tersebut disimpan. Dari sini proses identifikasi dapat dilakukan dengan cara mencocokan data-data yang sudah tersimpan tersebut. Apabila hasil pencocokannya sama maka akses akan bisa terbuka secara otomatis.

Metode Pembacaan

Setelah memahami penjelasan di atas, mungkin ada yang ingin bertanya bagaimana sebuah mesin pemindai dapat membaca dan mengetahui suatu pola sidik jari? Jawabannya, setiap sidik jari pasti mempunyai banyak sekali garis-garis yang terlihat menonjol dan melingkar-lingkar. Hal ini akan terbukti secara lebih nyata jika dilakukan cap jari cara konvensional memakai tinta.

Garis-garis yang menonjol dan melingkar-lingkat tersebut mengandung pola-pola rumit. Jika pola-pola inilah yang kemudian dapat dipakai untuk menjalankan proses identifikasi. Proses ini sering membutuhkan waktu lama karena apabila prosesnya disederhanakan hasilnya akan menjadi kurang akurat.

Guna mengatasi masalah tersebut, maka alat pemindai hanya dipakai untuk menangkap sekaligus menyimpan tiga macam pola sidik jari saja. Ketiga macam pola tersebut adalah ridge ending atau ujung garis, bifurcation atau garis bercabang dan short ridge atau garis pendek seperti titik. Semua jenis pola ini tidak ada yang sama diantara masing-masing manusia.

Mesin atau alat pemindai selalu butuh yang namanya sensor. Sensor ini terdiri dari beberapa jenis. Salah satunya adalah optical fingerprint imaging, dimana sistem perekaman pola pada sidik jarinya menggunakan cahaya. Metode kerjanya hampir sama dengan mesin untuk fotocopy.

Pertama, jari diletakakan pada sebuah scaner dan biasanya scanner ini terbuat dari material kaca. Setelah itu cahaya akan dimunculkan untuk memberi penerangan pada permukaan jari. Proses ini akan menghasilkan pantulan yang selanjutnya akan ditangkap oleh mesin penerima dan setelah itu hasil pemotretan biometrik sidik jari bisa diperoleh.

Teknologi Capacitive Dan Sensor Ultrasonik

Motode semacam ini mempunyai beberapa kelemahan. Misalnya ketika jari sedang kotor atau ada bagian yang terluka, hasil pemindaian bisa menjadi kurang sempurna dan akurat. Berdasarkan hal ini, vendor smart phone lebih suka memakai sensor berteknologi capacitive atau sensor ultrasonik. Sesuai dengan namanya, sistem kerja pada sensor ultrasonik menggunakan gelombang sebagai alat untuk pemindaian.

Kelebihan dari teknologi ini adalah hasil pemindaian yang lebih berkualitas dan berbentuk 3D atau tiga dimensi. Sehingga resiko terjadinya pemalsuan atau duplikasi sangat rendah. Selain itu, proses identifikasinya tidak tergantung lagi pada kondisi jari.

Sedangkan pada sensor capacitive, alat yang dipakai untuk pemindaian adalah kapasitor. Alat ini akan menyimpan muatan listrik yang kemudian dihubungkan pada piringan konduktif dalam layar smart phone. Melalui perangkat tersebut, detail sidik jari bisa dilacak.

Muatan listrik pada perangkat kapasitor tersebut akan selalu mengalami sedikit perubahan saat ada bagian garis sidik jari yang menonjol ketika ditempelkan di piringan konduktif. Sementara itu, pada sisi yang lain, diantara sela-sela garis yang terlihat menonjol tidak memiliki pengaruh terlalu besar pada kapasitor sehingga citra sidik jari bisa didapatkan.

Dari penjelasan yang dikemukakan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa sebetulnya teknologi biometrik sidik jari itu memiliki sistem kerja yang lebih rumit dibanding penggunaan password. Namun apabila diaplikasikan pada pemakaian smart phone, justru akan memudahkan pemiliknya. Alasannya, karena tidak perlu lagi mengingat password dan cukup menempelkan jemarinya saja di perangkat tersebut.