Inilah Contoh Rekayasa Genetika Pada Tumbuhan Yang Bikin Heboh

Lazimnya manusia memberikan respon penolakan ketika dihadapkan pada sesuatu yang tidak ia ketahui. Hal ini juga berlaku ketika membicarakan mengenai produk hasil rekayasa genetik, khususnya yang berasal dari tanaman atau tumbuhan untuk dikonsumsi. Banyak contoh rekayasa genetika pada tumbuhan ditolak karena dianggap berbahaya.

Penolakan ini ada yang berdasarkan pada contoh kasuistik, namun kemudian digeneralisir. Misal, ada yang menderita penyakit kulit tertentu setelah mengonsumsi produk hasil rekayasa genetika. Kasus yang sebenarnya bersifat pengecualian ini, kemudian jadi pembenaran jika produk makanan tersebut berbahaya bagi semua orang. Bahkan anggapan ini berkembang jadi suatu keyakinan, tidak ada manfaat apa pun dari rekayasa genetika bagi kehidupan manusia. Benarkah hal itu?

Meluruskan Kesalahpahaman

Anggapan tersebut sejatinya keliru. Kalau pun ada yang beranggapan produk hasil rekayasa genetik berdampak merugikan, seperti bisa menyebabkan kanker atau penyakit berbahaya lainnya, ini dikarenakan faktor ketidaktahuan. Yakni menyamakan tanaman hasil rekayasa genetik dengan tanaman mutasi genetik (transgenik). Memang untuk saat ini, keberadaan tanaman transgenik masih jadi kontroversi. Dampak merugikannya berupa bahaya bagi kesehatan manusia, mengganggu ekologi atau keseimbangan lingkungan, hingga perekonomian global jadi ancaman serius yang membuat tanaman transgenik cenderung dihindari.

Nah, berbeda dengan tanaman hasil rekayasa genetik. Berbagai produk yang dihasilkannya seratus persen aman. Tidak percaya? Ambil salah satu contoh rekayasa genetika pada tumbuhan yang sudah biasa kita konsumsi, tapi tidak disadari. Tanaman itu adalah jagung. Awalnya jagung berasalnya dari teosinte, sejenis tumbuhan liar yang ditemukan manusia purba. Seiring waktu, teosinte dibudidayakan sebagai sumber makanan dan berevolusi menjadi tanaman jagung seperti yang kita kenal saat ini. Prosesnya berjalan alami melalui proses kawin silang atau pemilihan varietas unggul, hingga terjadi perubahan atau modifikasi genetik teosinte menjadi jagung.

Jadi, setelah kita mengetahui produk rekayasa dari tumbuhan itu berbeda dengan produk hasil transgenik yang banyak efek merugikan, amat keliru menolak keberadaannya. Hilangkan kekhawatiran yang berlebihan. Sepanjang produk tersebut jelas asal usul pembuatannya, seperti telah mendapat izin dari dinas kesehatan, maka jangan ragu untuk dikonsumsi.

Ragam Produk Rekayasa Genetika Terbaru

Masih banyak lagi contoh rekayasa genetika pada tumbuhan yang produknya sudah lazim kita konsumsi sebagai makanan sehari-hari. Apalagi penelitian mengenai hal tersebut terus dikembangkan. Ini karena kebutuhan jenis pangan berkualitas semakin bertambah seiring pesatnya populasi manusia. Terobosan baru dalam hal pemenuhan pangan penduduk dunia jadi tantangan bagi para ilmuwan.

Berikut ini berbagai contoh rekayasa genetika pada tumbuhan yang melahirkan beragam produk untuk dikonsumsi. Produk-produk ini tidak hanya unik, tapi juga menghebohkan karena diluar kelaziman.

1. Padi Berwarna Emas

Padi ini bukan berasal dari negeri dongeng atau produk imitasi. Tapi, ini adalah padi asli sebagaimana padi yang lazim berwarna putih, dan tentu saja aman untuk dikonsumsi. Melalui proses rekayasa genetika, para ilmuwan berhasil menemukan padi berwarna emas sehingga disebut dengan padi emas (golden rice).

Keunikan padi emas bukan hanya terletak pada warnanya, tapi pada kandungan gizi di dalamnya, yakni mengandung beta karoten yang lebih tinggi dari jenis padi pada umumnya. Kandungan beta karoten yang diadopsi dari wortel inilah, yang menghasilkan warna emas pada padi. Rutin mengonsumsi padi emas akan membuat tercukupinya asupan harian vitamin A bagi tubuh.

2. Grapple

Selain padi sebagai makanan pokok, jenis buah-buahan pun tidak lepas dari usaha rekayasa genetika para ilmuwan. Bukan hanya menemukan jenis buah yang punya kualitas prima atau varietas unggul, tapi juga memadukan sifat beberapa buah-buahan menjadi satu. Grapple adalah salah satu contohnya. Dari namanya, sudah bisa ditebak jika buah-buahan ini merupakan gabungan dari anggur (grape) dengan apel (apple).

Wujud grapple masih berupa apel, tapi tekstur kulitnya seperti anggur. Untuk rasa, merupakan campuran dari kedua buah tersebut. Selain rasa baru, grapple sangat kaya dengan kandungan vitamin C. Kadarnya bahkan melebihi kadar vitamin C pada anggur maupun apel. Tertarik mencicipinya?

3. Pluots

Mungkin ada yang kurang familiar dengan buah plum atau apricot. Tapi bagi masyarakat luar negeri, terutama mereka yang berdiam di Benua Eropa dan Amerika, kedua buah ini lazim dikonsumsi. Ada pun pluots adalah terobosan baru yang menggabungkan sifat kedua buah tersebut menjadi satu. Hasilnya, diperoleh buah dengan rasa yang lebih manis dan tekstur kulit buah sangat lembut.

Kelebihan lain ada pada kandungan gizinya. Pluots amat tinggi kandungan vitamin C, bersifat antioksidan karena memiliki zat lycopene, serta zat-zat lain yang bermanfaat bagi tubuh seperti potassium, lutein, dan anthocyanins. Selain itu, rutin mengonsumsi pluots dapat menurunkan kadar kolesterol dalam tubuh. Ini karena pluots tidak memiliki kandungan natrium, zat yang biasanya ada pada buah-buahan dan jadi pemicu naiknya kadar kolesterol. Jadi, pluots aman dikonsumsi dalam jumlah banyak tanpa khawatir menimbulkan masalah bagi kesehatan.

4. Cucamelon

Jika penggabungan sifat dua jenis buah dirasa masih kurang, bagaimana jika tiga? Nah, hal ini telah dilakukan dan hasilnya adalah cucamelon. Meski terlihat seperti semangka berukuran mini, namun cucamelon adalah perpaduan dari buah semangka, mentimun, dan jeruk nipis. Ada pun rasanya, seperti rasa mentimun dengan jeruk nipis. Sangat segar untuk dinikmati, apalagi pada saat cuaca panas menyengat.

Cucamelon punya kelebihan mudah dibudidayakan di mana saja. Bahkan di dalam pot atau di luar ruangan dengan kondisi kering pun, pertumbuhan cucamelon tidak terganggu. Tak hanya tahan kering, cucamelon juga kebal terhadap serangan hama. Tidak perlu pestisida atau zat kimia pemberantas hama lainnya, sehingga cucamelon aman dikonsumsi karena terjaga kealamiahannya. Cucamelon untuk saat ini banyak ditanam di kawasan Meksiko dan sekitarnya, yang iklimnya tergolong ekstrem karena diliputi gurun.

5. Bunga Yang Tak Layu

Ada yang beranggapan, jangan nyatakan cinta dengan bunga, karena ia mudah layu. Nah, anggapan ini kiranya jadi tidak relevan dengan ditemukannya bunga yang tak mudah layu. Jenis bunga ini tidak berkurang kesegarannya meski telah dipetik selama beberapa hari.

Proses rekayasa genetika dilakukan dengan memodifikasi DNA yang bertanggung jawab terhadap proses layunya bunga setelah dipetik. Setelah modifikasi dilakukan, umur bunga jadi lebih panjang setelah dipetik atau dipotong dari tangkainya. Mawar, petunia, dan anyelir adalah contoh jenis bunga yang berhasil dimodifikasi DNA-nya sehingga bunga tersebut tidak cepat layu seperti pada umumnya jenis bunga-bunga yang lain.

Tentunya masih banyak lagi contoh rekayasa genetika pada tumbuhan yang kini sudah ditemukan atau sedang dalam tahap pengembangan. Menyikapi produk-produk hasil rekayasa genetika tanpa diliputi prasangka termasuk sikap yang bijaksana. Ini karena teknologi rekayasa genetika dikembangkan sebagai solusi memberikan alternatif pangan untuk dikonsumsi, dan meningkatkan kualitas hidup umat manusia. Sebuah tujuan mulia yang selayaknya diapresiasi, bukan dimusuhi.