Face Recognition Adalah Teknologi Yang Kini Digandrungi

Pernah mendengar istilah face recognition? Ya, benar jika Anda mengatakan pernah mendengarnya terkait dengan teknologi keamanan saat ini. Face recognition adalah terobosan terbaru pada teknologi keamanan yang berlandaskan disiplin ilmu biometrik, yakni ilmu yang menggunakan sistem biologi manusia sebagai dasar penemuan teknologi-teknologi terkini.

Nah, face recognition adalah salah satu contoh bagaimana wajah manusia menjadi dasar pembuatan teknologi keamanan. Atau dengan kata lain, wajah manusia jadi acuan untuk dilakukannya proses identifikasi. Jika sebelumnya telah berkembang alat identifikasi seperti pemeriksaan sidik jari (fingerprint), retina, atau iris mata, maka penemuan teknologi face recognition semakin memperkaya peralatan identifikasi berbasis biometrik.

Keunggulan teknologi face recognition dibanding teknologi sejenis, terletak pada aspek efisiensinya. Bukan hanya efisien dalam hal pengolahan data yang masuk, tapi juga efisien dari sisi pengadaan serta perawatan peralatannya. Ambilah contoh peralatan identifikasi menggunakan sidik jari atau finger print, yang sering digunakan sebagai alat absensi karyawan. Finger print dapat dikatakan kurang efisien dibanding face recognition dari aspek pengolahan data yang masuk. Data-data yang tersimpan di peralatan finger print hanya bisa didownload secara manual. Termasuk perubahan-perubahan data, seperti ada karyawan yang telah mengundurkan diri atau karyawan baru, harus dilakukan secara manual. Berbeda dengan peralatan face recognition yang semua proses pengolahan dan perubahan data berlangsung otomatis dan bisa diakses online.

Meski termasuk jenis teknologi terbaru, namun peralatan face recognition tergolong efisien dalam hal biaya pengadaan dan perawatannya. Tidak seperti teknologi identifikasi menggunakan retina atau iris mata yang mahal harganya, atau finger print yang rentan mengalami kerusakan, face recognition adalah teknologi identifikasi yang murah dan praktis. Jika terjadi kerusakan pun, bisa dengan mudah diperbaiki tanpa perlu teknisi khusus.

Dengan berbagai keunggulan yang ada, tidak mengherankan jika face recognition jadi pilihan banyak orang. Tidak hanya digunakan sebagai alat absensi karyawan di perusahaan-perusahaan, tapi juga banyak dipakai sebagai sistem keamanan rumah kediaman untuk menggantikan fungsi alarm berbasis kode tertentu (password). Apalagi kelebihan face recognition adalah tidak mudah diotak-atik oleh mereka yang berniat jahat. Jika teknologi alarm berbasis kode bisa direkayasa sehingga sistem keamanan jadi tidak berfungsi, maka teknologi alarm berbasis face recognition kecil kemungkinan hal serupa bisa dilakukan.

Sistem keamanan berbasis face recognition juga mulai digunakan di mall-mal atau pusat perbelanjaan. Dengan adanya teknologi ini, memungkinkan setiap pengunjung yang keluar masuk mall dapat teridentifikasi. Jika ada pelaku kejahatan yang masuk DPO (Daftar Pencarian Orang), pihak kepolisian bisa segera mengetahuinya. Ini karena teknologi face recognition bisa terhubung secara online dengan database kepolisian, yang memungkinkan pihak kepolisian memperoleh informasi secara cepat dan langsung bisa mengaksesnya.

Penggunaan teknologi face recognition bahkan kini begitu dekat dengan keseharian Anda. Tidak percaya? Lihat saja benda yang ada dalam genggaman hampir setiap orang, yakni ponsel atau telepon genggam. Benda yang kerap disebut sebagai smartphone ini juga mulai banyak yang mengadopsi teknologi face recognition sebagai salah satu fitur keamanannya. Selain terlihat lebih bergensi, fitur keamanan menggunakan face recognition semakin meningkatkan sistem keamanan data privasi di ponsel dengan cara yang praktis.

Perkembangan Teknologi Face Recognition

Sekitar tahun 1960, para ilmuwan mulai meneliti kemungkinan komputer mengenali wajah manusia. Ini didasari pada sistem kecerdasan manusia yang dapat mengenali wajah meski lupa pada hal lainnya. Misal, kita bertemu seseorang yang tidak asing wajahnya namun kita lupa siapa dia. Setelah berkenalan dan mengobrol, kita baru menyadari jika orang tersebut adalah teman lama atau teman saat kecil dahulu. Ini adalah contoh dan bukti bahwa manusia bisa mengingat dan mengenali wajah walau informasi yang lain tidak diingatnya.

Dalam perkembangannya, penelitian tersebut berhasil menemukan software yang memungkinkan komputer memiliki kecerdasan serupa, yakni mengindentifikasi wajah manusia dan mengenalinya. Nah, dari sinilah lahir istilah face recognition atau pengenalan wajah yang kemudian diterapkan sebagai alat untuk identifikasi.

Teknologi face recognition pada awalnya bersifat 2 dimensi. Yang mana, komputer hanya mengenali wajah yang difoto secara langsung menghadap kamera. Jenis foto-foto yang lazim Anda temukan di KTP, SIM, pasport, atau lembar ijazah kelulusan. Jika foto atau wajah manusia diambil dari samping sehingga wajahnya tidak sepenuhnya tampak, maka teknologi face recognition akan kesulitan mengidentifikasinya.

Kendala lainnya, agar komputer mengenali wajah dengan akurat, faktor pencahayaan amatlah penting. Jika pencahayaan tergolong minim atau foto yang diambil terkesan buram, maka komputer pun tidak dapat mengidentifikasinya. Jadi, agar wajah dapat dikenali, dibutuhkan foto atau gambar digital dengan wajah jelas tak tertutupi apa pun dan tidak buram. Kualitas foto yang prima tidak hanya dibutuhkan saat menginputnya ke database, tapi juga ketika proses identifikasi hendak dilakukan. Wajah yang ditangkap oleh kamera komputer, yang nantinya akan dikenali atau tidak, juga harus memiliki kualitas prima.

Untuk mengatasi kelemahan teknologi face recognition 2 dimensi, kemudian dikembangkan software dengan model 3 dimensi. Teknologi ini memungkinkan komputer mengenali wajah meski diambil dari samping. Termasuk ketika wajah yang hendak diidentifikasi menggunakan aksesoris tambahan, komputer tetap bisa mengenalinya. Contoh, wajah yang akan diidentifikasi ternyata menggunakan topi dan kacamata, yang membuat sebagian wajahnya tertutupi, tidak menjadi kendala dalam proses identifikasi. Faktor cahaya yang minim pun bukan lagi jadi masalah. Bahkan dalam kondisi tanpa penerangan pun, pemindaian wajah tetap bisa dilakukan. Luar biasa, bukan?

Cara Kerja Face Recognition

Setiap wajah manusia memiliki kontur-kontur spesifik yang membedakannya dengan wajah lain. Saat ini komputer bisa memetakan setidaknya 80 titik kontur pada wajah manusia. Contoh, jarak di antara kedua mata, bentuk mata, lebar kening, lebar dan ketinggian tulang hidung, bentuk dari tulang pipi, atau seberapa panjang rahangnya. Semua data mengenai kontur wajah tersebut kemudian diukur menggunakan kode numerik, yang disebut dengan istilah faceprint atau salinan wajah. Faceprint inilah yang kemudian disimpan dalam database, dan jadi bahan referensi ketika suatu waktu ada wajah yang hendak dikenali.

Jadi, secara sederhana cara kerja teknologi face recognition adalah membandingkan wajah yang akan diidentifikasi dengan database wajah di dalam komputer. Prosesnya dimulai dari kamera yang terkoneksi ke komputer, yang kemudian menangkap gambar digital dari wajah seseorang. Lalu, gambar digital itu diolah sehingga diperoleh kode numeriknya. Setelah kode numeriknya didapatkan, proses selanjutnya adalah mencocokan dengan faceprint dalam database. Jika kecocokan ditemukan, maka identifikasi dari wajah tersebut bisa segera diperoleh.

Kiranya, teknologi face recognition akan semakin digandrungi. Apalagi face recognition adalah teknologi yang punya banyak kelebihan dibanding teknologi identifikasi sejenis. Masa depan teknologi ini akan berkembang hingga tingkat yang mungkin tidak bisa kita bayangkan.